Fanfiction

Kamis, 12 Desember 2013

Love part 3

Untuk sebelumnya saya meminta maaf di Part 3 ini saya mengubah kata "AKU" menjadi "RENDY" agar ceritanya lebih nyambung dan lebih panjang biar enak di baca.. Arigatou ^^ 
Rendy pun langsung kembali ke kamarnya, dan dia pun langsung mengambil ranting ranting pohon yang di pungut tadi.
            “emm kayaknya aku harus buat sekarang nih, gk ada waktu lagi” katanya yang langsung membuat tulisan nama Shania  Junianatha. Dan akhirnya dia menyelesaikannya karyanya hingga jam 2 malam. Rendy pun langsung tidur.
            Ke esokan harinya dia bangun labih pagi dari biasanya. dia pun langsung membereskan tempat tidur dan mandi. Tanpa sarapan Rendy pun langsung pergi kerumah Shania.
            Sesampai di rumah Shania. Rendy pun melihat ibunya Shania di luar sedang menyiram bunga di taman rumah Shania.
            “ada Shania nya bu?” Tanya Rendy dengan sopan.
            “oh kamu lagi ya nak. Sebentar Shanianya lagi di dalam nih, saya panggilkan Shanianya, silahkan masuk dulu nak” kata ibu Shania
            “gk usah bu saya di sini saja” kata Rendy sambil senyum kepada ibu Shania.
            Ibunya Shania pun masuk kedalam dan tidak lama Shania pun keluar dari rumahnya.
            “hei ren ada apa kok datang kerumah ku. Dan kok kamu gk pakai baju sekolah ?” Tanya Shania dengan heran.
            “aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Tanya Rendy dengan tenang.
            “ya memang kenapa. Jangan bikin aku cemas dong” kata Shania yang mulai cemas melihat Rendy.
            “kamu tau kan kalo aku skater” Tanya rendy dengan muka tenang agar Shania tidak menangis.
            “iya aku tau. Memang kenapa cerita dong ren, jangan bikin aku cemas gini!!” Tanya Shania yang mukanya sudah cemas.
            “aku di kontrak oleh brand skateboard terkenal amerika, dan aku di suruh ke amerika untuk mengikutin beberapa ajang lomba internasional dan di suruh pindah ke sana, dan ayah ku juga akan pindah tugas ke amerika” kata Rendy yang mencoba agar Shania tidak menangis ketika aku pergi sambil memegang tangannya.
            “jadi kamu akan pindah ke sana gitu?” kata Shania yang mulai mengeluarkan air mata.
            “iya shan aku harus pindah kesana. Sebenarnya aku sudah tau kalo aku akan di kontrak tapi aku menolaknya karena aku tidak tinggal di amerika. Tapi ayah ku pindah kesana jadi aku menerima kontrak itu” kata Rendy yang tidak ingin Shania tambah sedih.
            “tapi aku gk mau kamu pergi ren, aku sayang kamu, aku masih mau pergi ke taman bareng kamu, duduk bersama kamu, jalan jalan barang sama kamu, aku gk mau kamu pergi ren” kata Shania sambil memeluk Rendy dan mengeluarkan air matanya itu.
            “aku gk lama kok. Aku akan kembali lagi kok, aku juga sayang kamu shan, aku juga gk mau semua ini berakhir dengan cepat, tapi aku harus pindah kerena pekerjaan ayah ku, aku mau kamu menyimpan ini” kata Rendy. Shania pun perlahan lahan melepaskan pelukannya dan Rendy memberikan karyanya semalam.
            “apa ini?” kata Shania yang memegang buatan Rendy itu
            “em itu buatan ku semalam, aku mengambil ranting ranting pohon itu di taman kemarin.. aku mau kamu menyimpannya.. jangan sampai hilang ya.. kalo kamu kangen aku kamu bisa memeluk boneka kemarin yang aku belikan” kata Rendy sambil memegang tangan Shania.
            “kamu janji ya kembali ke Indonesia” kata Shania yang mulai membersihkan air matanya.
            “ya aku janji kok, kamu gk sekolah.. sini ku antari” ajak Rendy untuk mengantar Shania sekolah untuk pertama dan terakhir kalinya.
            “oke deh ntar ya aku ambil tas ku dulu sekalian pamitan sama ibu dan ayah ku dulu” kata Shania yang mulai masuk ke rumahnya.  
            Tidak lama Shania keluar dari rumahnya.
            “ayo kita berangkat!” kata Shania sambil semangat.
            “ayok” Mereka pun langsung menaikin motor Rendy.
            Entah Shania kok tiba tiba memeluk Rendy dengan erat. Dan mulai meneteskan air matanya itu.
            Rendy hanya bisa tersenyum merasakan ini.
            Akhirnya sampai juga di depan gerbang sekolah.
            “shan jaga dirimu baik baik ya disini, aku mau kamu terus tersenyum meski tidak ada aku disini,”kata Rendy sambil melepaskan helm yang di pakainya.
            “iya ren, kamu juga jaga dirimu baik baik, jangan telat makan, jaga kesehatan ya ren, aku gk mau dengar kabar kamu sakit atau apa” kata Shania yang takut Rendy kenapa kenapa. Rendy pun langsung turun dari motornya. Dan Shania memeluk Rendy dengan eratnya. Rendy hanya bisa membalas pelukan itu.
            Dan Shania pun melepas pelukannya .
            “aku sebenarnya gk mau kamu pergi,tapi aku relakan kamu untuk menggapai cita cita kamu” kata Shania yang akhirnya melepas Rendy pergi untuk mengejar cita citanya.
            “iya shan, terima kasih, aku akan kembali kok” kata Rendy dengan menatap Shania.
            “oke ren, aku masuk dulu ya, good bye ren” kata Shania sambil melambaikan tangannya dan masuk ke sekolah.
            “good bye shan, aku akan kembali!” kata Rendy  sambil teriak.
            “hei ren!” kata seseorang yang menggageti Rendy dari belakang, dan ternyata itu ridwan.
            “eh kamu, ngapain kamu masih di luar wan?”
            “gpp sih, oh ya kamu sampai kapan di amerika?”
            “entah, tapi aku akan kembali kok. Oh ya wan, aku mau kamu jagain Shania ya, aku gk mau dia terluka atau apa?” kata Rendy, dengan memberi kepercayaan kepada ridwan.
            “oke, apapun akan ku lakukan untuk mu boys” kata ridwan sambil memukul pundak Rendy.
            “oh ya sudah aku pulang dulu ya, ntar takutnya ketinggalan pesawat.” Kata Rendy sambil memakai helm dan menyalakan motornya.
            “oke hati hati ya di jalan, bro!” kata ridwan. Rendy pun hanya senyum kepada ridwan dan langsung menuju kerumah.
            Sesampainya di rumah .
            “emmm ini hari terakhir ku di Home Sweet Home, banyak kenangan yang ku tinggalkan di sini, mulai dari pertama berjalan ketika umurku 10 bulan, bermain sepak bola sampai kena pot dan di marahin nyokap habis habisan,, hahaha.. dan pertama kali aku menyentuh papan skateboard, aku akan selalu ingat rumah ini!” kata Rendy sambil memandangin rumah dari teras depan rumah. dia pun langsung masuk ke kamar dan menyimpun barang barang yang di bawa ke amerika.     
            Disisi lain Shania sedang belajar, dan sekarang tempat duduk Rendy di gantikan oleh sahabatnya Icha, ya Icha adalah sahabat Shania dialah yang menemani Shania. Dan dia menjadi tempat curhat Shania.
            “sudah siap ren!?” teriak ayah dari bawah
            “tunggu sebentar yah!” balas Rendy.
            “emmm mungkin ini terakhir kalinya aku bisa melihat kamar ku ini, semenjak aku bayi selalu di kamar ini, aku akan ingat kamar ini tidak akan pernah lupa. Good bye kamar ku” kata Rendy sambil keluar kamar dan membawa barang barang.
            Mereka sekeluarga pun memasukan barang barang yang perlu Mereka bawa ke bagasi taxi yang kami tumpangin,
            “oke semuanya sudah siap?” kata ayah
            “SIAP!” kata Mereka ber tiga.
            Taxi yang Mereka tumpangin itu pun langsung laju menuju ke bandara soekarno – hatta.
            Sesampainya disana mereka pun langsung check in dan langsung menuju pesawat yang mereka naikin.
            Di dalam pesawat  Mereka hanya mendengarkan musi musik yang merdu.  
            Di sisi lain pelajaran di sekolahan pun sudah selesai,
            “shan ayok pulang? Ajak icha.
            “ayo deh” jawab Shania sedikit murung.
            “Shania Junianatha, jangan murung gitu dong, ntar rendy sedih lagi kamu murung gitu. Kan dia bilang, kamu harus semangat tanpa dia!” kata Icha yang menyemangati Shania yang masih sedih karena di tinggal oleh Rendy.
            “aku tidak tau cha, apa aku bisa kuat tanpanya “ kata Shania dengan murung.
            “kuat dong, kamu harus kuat shan, oh ya gimana ntar malam kita jalan jalan, ya cari udara segar dekat komplek” kata icha yang mencoba menghibur hati Shania
            “ayo deh, pulang yuk?” ajak Shania yang mulai semangat.
            “kan tadi aku yang ngajak pulang duluan, gimana sih” kata icha yang mukanya agak mesem.
            “hehehehe, maaf maaf, copas dikit gk papakan” kata Shania yang ketawa.
            “akhirnya Shania bisa ketawa lagi, yah semoga kepergian rendy bukan penyebab dia untuk murung terus” ucap icha dalam hatinya.
            “heeeeh jangan melamun, ayo kita pulang nih!” kata Shania, yang saat itu menyadarkan icha yang sedang melamun.
            “eh ayo dah!” kata icha. Mereka pun pulang bareng.
            Di lain sisi rendy masih dalam perjalan karena perjalan menuju amerika sendiri 24 jam untuk menuju Washington DC apa lagi perbedaan Indonesia dan amerika hampir 11 jam.
            Sementara rendy harus transit sebanyak 3 kali yaitu di Changi Singapura dan bandara Narita Tokyo dan baru mereka bisa ke amerika.
            Sementara di Indonesia sudah pukul 7 malam dan Shania menunggu icha datang kerumahnya.
            “hey shan maaf, tadi aku tidur dulu habis sekolah eh gk taunya kebangun jam setengah 7, maaf ya” kata icha sambil meminta maaf  kepada Shania.
            “ohh gk papa kok, tenang aja, ayok kita jalan” kata Shania, mereka pun berjalan mengelilingi komplek untuk mencari udara segar.
            “aduh laper nih shan, cari makan yok!” ajak icha yang saat itu sedang memegang perutnya.
            “ayo dah, aku juga laper sih, tapi dimana ya yang enak?” tanya Shania.
            “emmm cafe itu aja yok, kayaknya enak nih?” kata icha yang menunju cafe yang bernama “The Cafe Of Love”
            “wah ayok, tapi kan itu cafe, yakin kah ada makanannya?” tanya Shania yang ragu terhadap pilihan cafe icha.
            “emmmm mungkin ada, ayo dah shan aku laper nih!” kata icha yang mulai kelaperan. Karena Shania takut di makan oleh icha, Shania pun akhirnya mau ke cafe yang di ajak icha.
            “situ aja yok duduknya enak tuh pemandangannya bisa liat komplek ini!” kata Shania yang menarik icha ke tempat duduk yang di ujung dan bisa melihat pemandangan yang enak.
            “mas-mas!” kata icha yang memanggil pelayan di café itu.
            “ya mbak mau pesan apa, ini daftar harganya” kata pelayan itu dengan sopan.
            “emmmm saya pesan nasi goreng special aja deh mas” kata icha.
            “pilihan yang tepat sekali” kata pelayan itu.
            “emmm kalo saya ayam goreng aja deh, soalnya bakso gk ada sih” kata Shania.
            “pilihan yang tepat sekali” kata pelayan itu lagi.
            “minumnya jus melon aja deh mas” kata icha.
            “pilihan yang tepat sekali” kata pelayan itu. Icha pun mulai aneh, setiap yang di pesan dia selalu di bilang “Pilihan yang tepat sekali”.
            “saya jus alpukat aja deh mas” kata Shania.
            “pilihan yang tepat sekali” kata pelayan itu, mereka pun mulai bertanya Tanya.
            “boleh, Saya ambil daftar makanannya?” tanya pelayan itu.
            “boleh mas” kata Shania, dengan muka senyum maksa.
            “boleh saya tinggalkan tempat ini?” kata pelayan itu dengan sopan lagi
            “boleh mas!” kata icha. Yang mulai emosi.
            Akhrinya pelayan itu pergi.
“aneh juga ya kalo pelayannya terlalu baik,” kata Shania.
            “hahahah iya juga sih” kata icha yang tertawa.
            Mereka pun bercengkrama dengan asiknya, dan akhirnya makanan yang di pesannya datang, Mereka pun memakannya dengan lahap. Tidak terasa malam semakin larut, mereka pun memutuskan untuk segera pulang. Dan di perjalanan pulang mereka ngobrol bareng.
            “oh ya rendy udah menghubungin kamu kah?” kata icha,
            “belum sih, paling belum sampai.” Kata Shania yang cemberut.
            “kamu kangen sama dia?” tanya icha.
`           “iya lah, gk usah di tanya lagi itu” kata Shania.
            Di sisi lain rendy yang masih di pesawat, yang lagi tidur tiba tiba terbangun.
            “firasat buruk apa ini, kok tiba tiba aku terbangun.”
Ternyata Shania dan icha yang sedang berjalan dan di hadang 4 orang preman yang membawa senjata tajam. Shania dan icha pun ketakutan. Dan firasat buruk itu adalah adanya gangguan kepada Shania.
            “hey cewek cewek cantik, kok sendirian nih, malam malam gini, ayo sama abang aja kita happy fun” kata salah preman itu yang sedikit mabuk.
            “ngapain sih kalian ni. Pergi sana jauh jauh!” kata icha. “benar itu ngapain sih kalian itu!” kata Shania yang sedikit marah.
            “jangan marah marah dong cewek cantik” kata salah satu preman tersebut.
            Dan tiba tiba ada seseorang laki laki datang dari belakang dan langsung menendang salah satu preman tersebut. Dan terjadi lah perkelahian 1 melawan 4 orang. Dan pria tersebut berhasil mengalahkan 3 orang itu hingga pingsan. Dan tiba tiba ada yang menodongnya dari belakang memakai pistol.
            “hey siapa kamu?!, kamu bergerak! Ucapkan selamat tinggal kepada kepala mu!?” kata preman itu yang sedikit kecapekan.
            Dan pria tersebut langsung sigap menendang kaki preman itu dan langsung memukul wajah pria itu dan memukul ulu hati si preman tersebut. Dan preman itu pingsan.
            “hey siapa kamu?” tanya Shania.
            Dan laki laki itu mendatangi Shania dan icha.

            “aku….”
Inspirasi dari Shania junanatha

Selasa, 03 Desember 2013

Love part 2



Bu ratna pun mulai memperkenalkan murid baru itu.
            “oke anak anak, ini ada murid baru dari solo, silahkan perkenalkan nama mu nak” ucap ibu ratna yang saat itu sedang mengajarkan pelajaran FISIKA.
            “hallo teman teman nama saya Shania Junianatha. Salam kenal semua” ucap wanita itu dengan senyuman. Aku punya hanya benggong cewek yang bersama ku di taman kemarin ternyata satu sekolah sama aku dan satu kelas pula, betapa senangnya aku.    
            “oh ya itu kamu duduk di situ saja ya karena cuma di situ yang kosong” pinta ibu Ratna yang menunjuk kursi di sebelah ku. Dan sontak aku kaget ternyata Shania duduk samping ku. Betapa senangnya aku duduk samping bidadari cantik seperti dia.
            “ya bu terima kasih” balas Shania dengan senyuman. Dan dia pun duduk di samping aku. Sontak aku pun merasa senang duduk di samping Shania takutnya sih aku gk konsen karena mendengin dia mulu.
            “eh Shania ternyata kamu masuk sekolah disini ya. atau jangan jangan kamu cari biodata aku terus kamu suruh ayah kamu masuk sekolah sama aku biar ketemu aku terus kan” sahut aku dengan pede.
            “ih kamu mana ada tau aku kan di suruh ayah ku bukan aku yang mau..geer ni yee” jawab Shania dengan muka merah.
            “tapi kok mukanya merah tu ciiee” jawab ku dengan ketawa kecil.
            “hiih mana ada tu loh” jawab Shania dengan muka malunya dan dia mencibut ku.
            “aduh sakit nih” kata ku dengan menjerit kesakitan, ternyata percakapan ku di lihat oleh ridwan karena dia sendiri di belakang ku.
            “ciiieee Rendy mulai modus dengan anak baru ni yeee!” kata ridwan dengan suara di kerasin biar anak anak sekelas dengar. Sontak anak anak sekelas lihat ke arahku dan Shania. “ciieeee Rendy mulai PDKT dengan shania ni yeee!” anak sekelas semua serentak untuk mengolok ku dengan suara nyaring , so pasti aku dan Shania malu banget sampai salting.
            Dan pelajaran kembali seperti semula.
            Tidak terasa jam menunjukan pukul 13:00 waktunya pulang.
            “ayo shan, kita pulang tuh yang lain udah pulang loh kita aja belum nih!” kata ku sambil ngajak Shania pulang
            “ayo dah, aku juga mau istirahat capek banget hari ini” kata Shania dengan muka lesu kecapekan..“oh tuhan mengapa engkau biarkan bidadari secantik ini turun ke bumi meski mukanya kecapekan tetap cantik banget ya tuhan” ucap ku dalam hati. Sambil melamun, dan Shania pun bingung kenapa aku melamun.
            “oy kenapa melamun ntar di masukin setan loh!” ujar Shania sambil melambaikan tangan ke muka ku
            “eh iya nih aku melamuni kamu kok kamu cantik banget sih?” kata ku sambil menggodanya.
            “dasar mas gombal ni, memang hobinya gombal nih” kata Shania dengan muka malu seiring dengan dia mencubit tangan ku.
            “aww sakit nih udh dua kali dalam hari ini loh kamu mencubit aku,kurang 1 lagi biar kayak makanan sehari hari” kata ku dengan muka agak sedikit kesakitan, biasa modus biar dapatkan hati Shania.
            “hahaha.. aneh aneh aja kamu nih loh?” ucap Shania yang sedikit ketawa.
            Aku dan Shania pun kedepan gerbang sekolah.
“oh ya shan kamu pulang sama siapa?” Tanya ku dengan berharap bias mengantar Shania pulang.
            “gk tau nih, ayah ku lagi kerja nih” kata Shania sambil melihat mobil yang melintas di depan pagar sekolah.
            “gimana kalo bareng aku aja deh shan?” modus kembali berlanjut.
            “emm gimana ya? Boleh deh kayaknya seru pulang bareng sama tukang gombal” kata Shania dengan senyumnya yang indah itu.
            “emm ya udh deh kalo yang ngolok orang cantik gpp deh asalkan bisa pulang bareng” kata ku. Dan aku pun langsung mengambil motor ku di parkiran dengan motor yang disain motor klasik.
            “ayo naik shan ini helmnya” ucap ku sambil memberi helm kepada Shania .
            “unik juga ya helmnya kayak orangnya” kata Shania sambil senyum dan menaiki motor ku.
            “udah siap shan?”
            “oke. Siap!!”.
Dan motor yang kita naikin pun jalan, tiba tiba Shania memegang ku dengan eratnya “ wow enak sekali ya di peluk sama Shania hangat, ya tuhan kalo iya jodoh ku jangan pisahkan aku dengan dia ya tuhan” kata ku dalam hati.
            Gk lama kendaraan yang kita naikin sampai di depan rumah Shania.
            “terima kasih ya ren, udah mau ngantar pulang aku” kata Shania dengan senyum.
            “ya sama sama, eh kamu ada rencana gk besok sepulang sekolah?”.
            “gk ada tuh, memang kenapa?” jawab Shania yang memasang muka bingung.
            “besok aku mau beli buku nih temani ya” kata ku sambil membujuk Shania untuk menemani ku besok.
            “emm gimana ya, ya udah deh aku mau, aku juga mau cari buku nih. Ya udh aku masuk dulu ya. Bye  ”.. sambil melambaikan tangan ke arah ku.
            Aku hanya membalasnya dengan senyum. Dan aku pun langsung menjalankan motor ku dan perlahan lahan aku pergi meninggalkan rumah Shania.
            Sesampai aku di rumah, aku pun langsung ganti baju dan berbaring di kasur ku, aku pun membayangkan kejadian tadi. “wah seru sekali ya tadi sekolah, apa lagi tadi duduk samping bidadari cantik heh, rasanya pingin cepat cepat sekolah lagi besok”.
            Aku pun langsung mengalihkan pandangan ku ke hp ku yang sedang bunyi “wah tumben Shania nelfon nih ada apa ya? Kangen mungkin nih orang”. Kata ku dengan pede. “halo ada apa shan?” Tanya ku “y ren, tadi kan ada tugas tuh dari bu ratna, nah tugasnya tadi apa, aku lupa nyatat tadi” Ucap Shania dengan suara panik.
“oh tugas bu ratna, ini aku sebutin aja atau aku kerumah bidadari yang lagi nelfon aku ini?”.
            “hiii dasar gombal. Ya sudah kerumah ku aja deh mas gombal” kata Shania dengan suara malunya itu.
            “oke aku akan kesana” dan seketika telfon di tutup Shania. Aku pun langsung bergegas kerumah Shania dan tidak lupa aku membawa buku tugas dari bu ratna.
            Pas sesampainya aku di rumah Shania ternyata ada ibunya Shania di depan rumahnya
            “Permisi tante ada Shanianya?”
            “ada dia di dalam, duduk dulu dek, saya panggilkan dulu Shanianya” kata ibunya Shania yang menyuruh ku duduk dan masuk ke dalam untuk memanggil Shania.
“Shania! Itu ada teman mu di luar!”.
            “iya bu”. Shania pun keluar rumah,
            “wah Shania cantik juga ya meski pakai baju rumah” kata ku dengan suara kecil
            “apa tadi kata mu” ternyata Shania mendengar kata kata ku barusan.
            “E-eh gpp kok, ini bukunya” dengan gugup sambil memberi kan buku tulis ku.
            “hehe oh ya, ntar ya aku bikinkan minum dulu,sekalian ambil buku tulis, ntar dulu ya” Shania pun masuk kedalam. Aku pun hanya duduk sambil memandangi di sekitar rumah Shania yang sejuk.
            Tidak lama kemudian Shania datang membawa minuman dingin dan buku tulisnya serta yang pasti polpen.
            “eh maaf agak lama ya nunggunya ini minuman”.
            “gk kok, gk lama oh ya thank’s ya tulis gih dulu”
            “oke oke mas gombal”, dan langsung dia menulis tugas dari bu ratna.
            Gk lama pun aku mengambil segelas minuman yang tadi di suguhkan oleh Shania.
            “ehmm pait” kata ku yang melihat ke bawah, dan langsung aku liat ke arah Shania.
“eh jadi manis nih”..
“hii apaan sih gombal”
“hiihhh rasakan” Shania pun langsung mencubitku.
”hehehe aww, untung gk sakit”
“mana ada pasti sakit tuh”
“hahaha iya deh iya sakitt, aduh sakit tolong ambulan ambulan aku sakit nih di cubit Shania” .
“alay deh rendy, ternyata rendy bukan tukang gombal aja ya tapi juga alay hahaha” Shania pun tertawa.
“ya tuhan kapan lagi aku bisa ketawa bareng orang yg ku cintai ini aku ingin selamanya begini, aku ingin hanya maut yang bisa memisahkan kita berdua” ucap ku di dalam hati..
            Tak terasa sudah mulai senja aku pun bepamitan dengan Shania dan tentunya calon mertua aku *hehehe*.
            Sesampainya di rumah, aku pun langsung membersihkan tubuh ku dan tak lupa makan malam, aku pun langsung menuju kamar dan niat ku menelfon Shania.
            Tuuuuutttt tuuuut tuuuuuutttt
            “Halo ada apa ren?”.
            “Gpp kok.. ya lagi pengen denger suara bidadari nih. Oh ya bidadari ku lagi ngapain nih”.
            “ihh kamu memang tukang gombal nih, lagi mandangin bintang nih, memang kamu sendiri kamu lagi ngapain?”
            “lagi mandangin bulan juga nih dari jendela kamar, indah juga ya bulan purnamanya?”
            “iya nih terang benerang”.
            “ya semoga hanya dia yang bisa menerangin malam malam ini” kata ku dalam hati.
            “eh kok diam sih, melamuni siapa hayoooo?”.
            “e-eh gk kok, hehehe” kata ku nyegir sedikit.
Malam itu kita mengobrol dengan becanda.                
            Tak terasa sudah larut malam kami pun tidur untuk kesekolah besok.

            Ke esokan harinya aku pun langsung bergegas untuk sekolah. Sesampainya aku kesekolah aku pun langsung masuk ke kelas untuk memulai hari hari seperti biasa, dan tentunya sama bidadari cantik ku.
            Tidak terasa sudah waktunya pulang.
            “shan jadi gk nih kita ke toko buku?” Tanya ku sembari memasukan buku buku ku ke dalam tas.
            “tentu dong ren. Ayo kita berangkat” kata Shania sambil berdiri dan menarik ku.
            “oke oke” aku dan Shania pun langsung ke parkiran untuk mengambil motor ku itu.
            Aku dan Shania pun berjalan ke salah satu mall, sesampainya di mall aku pun langsung mencari tempat toko buku dan sesampai di toko buku  aku pun mencari buku yang aku inginkan.
            “cari buku apa ren?”.
            “emmm buku tetang skateboard nih” .
            “ohh, ntar ya aku cari buku novel” kata Shania sambil meninggal kan aku.
            Aku pun langsung mengambil buku yang ku lihat yang judulnya SKATEBOARD OF LEGEND.
            “wah ini kayaknya keren ini aja deh lumayan untuk menambah ke hebatan ku, dah dapat susul Shania ah” aku pun langsung mendatangi Shania yang saat itu sedang mencari novel. Ya biasa cewek sukanya novel novel cinta
            “udah dapat shan” Tanya ku
”udah ni” sambil menunjukan novelnya kepada ku judulnya lumayan aneh yaitu CINTA KITA SELALU ABADI.
“cieee kayaknya lagi jatuh cinta ni yee kok beli buku yang kayak gitu haahaha” ejek ku ke Shania  
“ih kamu apaan sih, aku suka aja sih cerita cerita gini.. ya lumayan buat di baca baca” kata Shaniasambil mandangin buku yang mau di beli..
“ ayo sudah kita bayar” ajak ku
“ ayo dah” jawab Shania dengan semangat.
            “sini bukunya biar aku aja yang bayarin” kata ku sembari mau membayarkan buku yang di beli.
“ah gk usah aku aja yang bayar. Ntar meropatkan kamu lagi?” jawab Shania yang menolak.
            “gk kok, ya sekali kali aku yang bayarkan” tawar ku
            “yakin nih?” kata Shania yang meragukan ku.
            “ya cantik aku aja yang bayarin ya” tawar ku dengan sedikit menggoda.
            “hii dasar gombal ya udh deh, nih bukunya” kata Shania sambil mengasih bukunya kepada ku.
            Dan aku pun membayar buku yang kita beli sesudah itu pun kita keluar dari toko buku, aku dan Shania pun keliling mall itu. Shania pun langsung menstopkan diri di depan toko boneka
            “eh coba liat” kata Shania sambil menarik ku
“apaan?”.
            “itu bonekanya lucu ya?” Tanya Shania yang mulai gemes dengan boneka itu.
            “emm lucu? Memang kenapa mau beli?” Tanya ku dengan tampang sok keren.
            “emmm iya sih, tapi aku gk bawa duit banyak, liat tu harganya mahal amat?” kata Shania sambil cemberut.
            “iya juga sih”
            “ntar dulu ya ren, aku ke kamar mandi dulu” kata Shania yang berjalan menuju toilet, yang kebetulan di samping toko boneka itu.
            “kira kira kalo aku belikan boneka itu. Apa Shania suka ya?emm. ah belikan aja deh, apa sih yang gk buat bidadari itu.” Aku pun ke dalam toko boneka itu dan mengambil boneka yang tadi di inginkan Shania. Aku pun langsung membayarnya ke kasir. Dan langsung keluar dari toko tersebut.
            “hey maaf ya kalo lama?” kata Shania yang mukanya kayak bersalah,
            “e-eh gk kok” kata ku sambil mensembunyikan boneka itu di belakang ku.
            “apa itu  yang di belakang mu?” kata Shania yang mencoba melihat apa yang di belakang ku, tetapi aku mencoba menghindar.
            “g-gk gk kok gpp” kata ku sambil takut ketahuan.
            “emm ya udh” kata Shania sambil cemberut.
            “e-eh jangan cemberut” kata ku sambil membujuk agar dia tidak marah.
            “habis kamunya sih gitu” kata Shania yang masih cemberut.
            “hehehehe, ini aku ada hadiah buat kamu” kata ku sambil mengasih boneka yang tadi Shania inginkan.
            “wah ini boneka yang ingin aku beli, makasih ya” kata Shania sambil memeluk erat tubuh ku.
            “e-e ya sama sama” aku pun membalas pelukan Shania tadi sungguh hangat pelukannya.
            “ya tuhan semoga pelukan ini yang pertama tadi bukan yang terakhir ya tuhan” ucap ku dalam hati dan tersenyum.
            Shania pun melepaskan pelukannya dan menangis haru. Aku pun langsung sigap mengambil tissue dalam kantong ku dan langsung menghapus air mata wanita yang ku cinta ini.      
            “jangan nangis. Ayo kita makan laper nih.” Kata ku sambil mengajak Shania makan.
            “ayok tapi jangan di sini di luar aja yok!” kata Shania yang menghapus air matanya.
            “ayo dah”.
            Aku dan Shania pun berjalan ke parkiran. Dan langsung menjalankan motor ku untuk mencari makan di luar, di tengah tengah perjalanan.
            “makan di mana nih kita shan?” Tanya ku, yang masih konsen menyetir motor ku ini.
            “emmm tempat kita pertama bertemu aja yok?” kata Shania, dengan gembira.
Aku pun senang Shania sudah tidak menangis lagi.
            “ayo dah tancap, pegangan ya”
            Shania pun pegangan dengan eratnya,
            “wah enak sekali pelukannya ini” ucap ku dalam hati.
            Aku dan Shania pun sampai di taman pertama kita bertemu.
            “eh situ aja yok makan bakso?” kata Shania yang menarik ku.
            “e-eh iya iya” aku pun ikut aja. Karena pasrah sudah kalo sudah di tarik bidadari satu ini.
            “bang baksonya 2 ya. Sama minum es teh nya 1. Kamu minum apa ren?” kata Shania yang menghadap ku.
            “es teh juga deh biar so sweet jadinya sama” kata ku dengan merayu Shania.
            “hhiii dasar, ya sudah es tehnya 2 ya bang”.
            “eh duduk di situ aja yuk dekat bunga bunga itu”. Kata ku sambil menunjuk tempat pertama kita bertemu.
            “ayok” kata Shania lagi lagi dia menarik ku.
            Aku pun dan Shania duduk di tempat kita pertama bertemu.
            “emm masih sejuk aja ya di sini. Semoga 20 tahun ke depan tetap sejuk” kata Shania yang melihat sekeliling
            “iya nih semoga tetap sejuk” kata ku yang juga melihat sekeliling,
            Shania pun melihat es krim di dekat air mancur.
            “eh ntar ya aku beli es krim ya tunggu di sini” kata Shania yang mulai berjalan ke arah penjual es kirm.
            Aku pun hanya duduk. Seketika aku pun melihat ada ranting ranting pohon berjatuhan.
            “wah ada ranting ranting tu. Boleh juga nih ku buat karya seni”. Kata ku sambil menggambil satu persatu ranting pohon yang berjatuhan.
            “cukup dah ini” kata ku sambil berjalan kembali ke kursi sambil memasukan ranting rating pohon itu ke tas ku.
            Gk lama abang baksonya datang sambil membawa bakso yang ku pesen tadi, dan Shania pun datang
            “makan baksonya dulu deh shan baru es krimnya” kata ku sambil mengangkat bakso itu ke arah Shania.
            “iya betul juga eskrimnya taruh sini aja dulu” kata Shania sambil menaruh es krim itu di sampingnya.
            Kami pun makan bakso dengan lahapnya. Dan hingga habis, kami pun langsung memakan es krim itu takutnya ntar makin meleleh. Ketika makan es krim.
            “shania makan es krim tu jangan clemotan dong masa udah gede clemotan” kata ku sambil geleng geleng kepala, dan mengambil tissue di kantong ku tadi. Dan aku pun membersihkan mulut Shania yang blepotan es krim itu.
            “heheh maaf deh” kata Shania sambil nyengir.
            Aku pun menyelesaikan makan es krim ku dan langsung mengembalikan mangkok dan gelas ke abang tukang bakso, dan langsung membayar nya, dan aku pun kembali ke tempat duduk ku bersama Shania.
            “ayok shan pulang udh mulai gelap nih” ajak ku kepada Shania.
            “ayok” kata Shania yang langsung berdiri.
            Tidak lama kemudian Shania pun memegang tangan ku.
            Aku pun merasa nyaman tangan ku di pegang Shania tidak ada rasa gugup atau apa. Dan kita pun langsung ke tempat aku memparkirkan motor ku. Aku pun langsung mengantarkan Shania pulang.
            “makasih ya shan, sudah mau menemani ku mencari buku” kata ku sambil melepaskan helm ku
            “eh kenapa kamu yang berterima kasih, harusnya aku, soalnya kamu udah membelikan aku boneka ini.”Kata Shania dengan senyum. “ oh ya aku masuk dulu ya” kata Shania. Aku pun kaget tiba tiba Shania mencium pipi ku. Aku hanya bisa melamun.”hati hati ya di jalan, ren” kata Shania sambil masuk ke dalam rumahnya. Aku pun membalasnya dengan senyuman, tapi aku masih merasa indahnya di cium oleh dia.
            Aku pun langsung meninggalkan rumahnya Shania. Dan langsung menuju rumah.
Sesampainya di rumah aku pun langsung melakukan pekerjaan ku seperti biasa. Ketika selesai aku pun langsung ke kamar ku.
            “wah di cium Shania tadi. Gk nyangka ya aku bisa di cium dia, enak sekali sumpah deh” kata ku sambil berbaring. Soalnya ini pertama kalinya aku di cium cewek. Soalnya aku sebelumnya belum pernah di cium.
            “rendy ke bawah dulu ayah mau ngomong sama kamu sebentar!” kata ayah ku dari bawah.
            “ya pah rendy turun..” aku pun langsung ke bawah dan mendatangi ayah ku.
            Aku kaget dengan berita dari ayah ku ini.
     
                                        Inspirasi by: Shania junianatha @ShaniaJKT48